Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Campak

Jangan Anggap Remeh Campak

SETIAP tahun diperkirakan 30.000 anak meninggal karena komplikasi campak. Jadi jangan anggap enteng campak walaupun gejala awalnya hanya berupa demam. Gejala campak tidak mudah dideteksi. Ini karena gejala penyakit tersebut hampir sama dengan batuk, pilek, dan demam seperti influenza biasa. "Hari pertama dan kedua tubuh penderita campak belum terlihat bercak-bercak kemerahan pada tubuh. Bercak merah akan berubah bentuk dari kemerahan menjadi cokelat kehitaman. Setelah berwarna kehitaman, campak tersebut sudah tidak menular," kata dokter umum dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Windi Ajidarma. Menurut Windi, campak merupakan penyakit infeksi berbahaya yang disebabkan virus campak atau genus morbili. Virus ini terdapat dalam darah, air seni, dan cairan pada tenggorokan. Itulah yang membuat campak ditularkan melalui pernapasan, percikan cairan hidung ataupun ludah. Bercak merah yang ditimbulkan campak, menurut Windi, sekilas seperti biang keringat. "Banyak orang ...

Waspadai Campak Jerman

CAMPAK identik dengan penyakit anak-anak. Namun, penyakit ini bisa juga menyerang orang dewasa. Campak orang dewasa dikenal dengan nama rubella atau campak jerman. Penyakit ini disebabkan virus rubella dan menyerang kelenjar getah bening. Campak jerman ini juga bisa menular melalui aliran darah, misalnya seorang wanita hamil akan menularkannya kepada anak yang dikandung. Kendati tergolong ringan, bayi yang tertular penyakit ini dapat menderita sindrom cacat bawaan. Bahkan, sebelum vaksin rubella ditemukan, epidemi rubella terjadi setiap enam hingga sembilan tahunan. Korban paling rawan waktu itu adalah anak-anak dengan usia lima hingga sembilan tahun. Namun, adanya program imunisasi pada anak-anak dan remaja usia dini, maka hanya sedikit kasus rubella bawaan. "Gejala rubella sebenarnya hampir sama dengan campak biasa, yaitu demam selama satu atau dua hari, dengan 37,2 hingga 37,8 derajat Celsius," kata Dr Irawan Ambarwati. Gejala lain dari campak Jerman juga ditunjukkan denga...

Pegagan (Centella asiatica), Penyembuh Beragam Penyakit

INDONESIA yang disebut sebagai negara kaya rempah memang berpotensial memanfaatkannya untuk berbagai keperluan. Salah satunya tanaman herbal pegagan yang bermanfaat menyembuhkan penyakit. Pegagan atau dalam bahasa latinnya disebut dengan Centella asiatica merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, tepi jalan, pematang sawah ataupun di ladang yang agak basah. Tanaman ini banyak ditemukan dengan warna merah dan hijau. "Pegagan adalah sejenis tanaman herbal atau tanaman rempah dengan banyak manfaatnya," ujar peneliti tanaman obat dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ir Latifah K Darusman MS. Bisa dikatakan, tanaman herbal yang tumbuh di Indonesia ini banyak dimanfaatkan untuk kesehatan bagi penduduk setempat. "Sudah banyak orang yang mengetahui bahwa tanaman herbal ini bisa dimanfaatkan selain untuk masakan, juga untuk kesehatan," ucap Latifah yang juga menjabat sebagai kepala Pusat Studi Biofarmaka IPB. Dia mengatakan, manfaat kesehatan yang bisa...

Selamatkan si Kecil dari Alergi

DAYA tahan tubuh anak dalam masa pertumbuhan wajib menjadi perhatian orangtua. Pasalnya, anak yang daya tahan tubuhnya buruk mudah terkena alergi. Dalam lima dekade terakhir di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, terjadi tren penurunan angka penyakit infeksi, seperti tuberculosis dan campak. Namun sebaliknya, terjadi peningkatan signifikan angka penyakit gangguan sistem daya tahan tubuh, seperti alergi. Hal senada diungkap oleh Profeseor Sibylle Koletzko, kepala divisi "Pediatric Gastroenterology and Hepatology" Ludwig Maximilians University Munic, Jerman. "Penyakit alergi sangat erat dengan daya tahan tubuh anak. Alergi adalah respons sistim daya tahan tubuh secara berlebihan terhadap substansi yang biasanya tidak berbahaya, yang dapat menimbulkan gejala yang merugikan tubuh, mulai dari gangguan pernafasan, gangguan pada saluran cerna maupun kulit. Pada usia dini, tanda-tanda reaksi alergi biasanya adalah infeksi kulit (seperti ruam merah) dan gangguan saluran c...

Tanya Jawab Tentang Anak

SEMAKIN besar, ada saja ulah anak yang bikin Moms kagum sekaligus kalang kabut. Tak jarang Moms berucap, “Wow, anakku hebat!”, kali lain “Aduh, wajar nggak sih ini? atau “Kenapa begini... terus harus bagaimana dong?”. Nah, segala pertanyaan soal tumbuh kembang si 1 – 2 tahun yang Moms lemparkan ke redaksi, telah dijawab secara khusus oleh dr. Mas Wishnuwardhana Widjanarko, SpA, M.Si. Med, Dokter Spesialis Anak dari RS Hermina Grand Wisata dan Global Awal Bros Hospital, Bekasi. Yuk, temukan jawabannya! T : Dok, hingga kini anak saya (24 bulan) belum bisa berhenti mengisap jempolnya. Ritual itu dilakukannya pada saat tidur. Biasanya, dia berganti jempol, entah itu jempol kanan atau kiri. Untuk menghilangkan kebiasaan itu, saya mengolesi jempolnya dengan tanaman pahit. Tapi, dia malah ngamuk dan susah tidur. Dok, bagaimana mengatasinya? J : Ibu, coba alihkan perhatian si anak. Misalnya, sebelum tidur, ajaklah dia bermain atau mendongeng.Tapi, kalau cara itu belum ampuh juga, cob...

Jenis-Jenis Vaksinasi untuk Wanita

SIAPA bilang imunisasi dan vaksinasi hanya buat balita saja? Orang dewasa masih perlu divaksin untuk mencegah penyakit tertentu dan meningkatkan kekebalan tubuhnya. Untuk Anda yang ingin mengetahui beberapa jenis vaksinasi yang wajib didapatkan oleh orang telah aktif secara seksual, khususnya perempuan dewasa dalam kurun waktu sebelum menikah, hingga setelah memiliki anak, inilah pemaparannya: * Vaksinasi HPV Human Papilloma Virus (HPV) adalah virus yang menyebar karena hubungan seksual. Beberapa tipe HPV dapat menyebabkan kanker rahim. Namun pada sebagian besar wanita, infeksi karena HPV tidak berlangsung lama dan tidak semuanya menyebabkan kanker. Menurut dokter spesialis kandungan dan kebidanan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr Andon Hestiantoro, SpOG(K), Human Papilloma Virus terdiri hampir 40 tipe, lebih kurang 15 tipe berhubungan dengan kanker leher rahim dan kanker di sekitar anus, vulva, dan vagina. "Infeksi HPV merupakan infeksi yang dapat ditularkan secara seksual, dan ...

Semua Imunisasi Itu Penting!

“AH, nanti saja imunisasinya. Toh tinggal imunisasi yang dianjurkan. Pokoknya kan, imunisasi yang diwajibkan sudah lengkap.” Acapkali anggapan seperti itu terpatri dalam pikiran Moms yang masih memiliki bayi. Tak sedikit pula orangtua yang menganggap remeh pemberian vaksin. Bahkan yang lebih parah, ada orangtua yang tidak memvaksinasi sama sekali buah hatinya dengan alasan tak tega melihat sang bayi disuntik. Coba bayangkan jika tiba-tiba dokter memvonis bayi Anda terserang penyakit berat? sesal pun datang setelah semuanya terjadi! Pasalnya, ada penyakit walaupun sembuh menyisakan cacat seumur hidup. Melindungi Risiko Penyakit Berat Perlu diketahui Moms, sistem pertahanan bayi sangat lemah. Sebab, daya tahan atau sistem imun bayi belum sepenuhnya terbentuk. Ini menyebabkan anak memiliki risiko tinggi terkena penyakit. Seperti ditegaskan oleh dr. Caroline Mulawi, SpA, imunisasi layaknya memberikan perlindungan daya tahan tubuh anak terhadap penyakit yang menyerang. Tapi ingat, bayi yang...

Manfaat Imunisasi pada bayi dan anak-anak

IMUNISASI merupakan cara terbaik untuk melindungi anak dari penyakit. Jutaan kematian pun berhasil dicegah lewat imunisasi. Meski demikian, masih banyak anggapan miring terkait dengan pemberian imunisasi, seperti efek samping yang mungkin ditimbulkan. Cara terbaik untuk mencegah penyakit pada bayi dan anak adalah melalui imunisasi. Terbukti, penggunaan imunisasi sejak diperkenalkan pada abad ke-20 mampu mencegah jutaan kematian di dunia. Di Indonesia sendiri, imunisasi telah dilakukan sejak 1970 pada bayi dan anak. Imunisasi pada dasarnya bertujuan untuk menstimulasi reaksi kekebalan tubuh tanpa menimbulkan penyakit. Beberapa penyakit infeksi seperti campak, tetanus, polio, atau hepatitis, bisa dicegah dengan imunisasi. Meski tidak semua penyakit infeksi tersebut mengancam jiwa, beberapa penyakit bisa menyebabkan kecacatan. Teknik pemberian imunisasi pada umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara disuntik atau d...

5 Langkah Cegah Pneumonia

“AH, si kecil hanya batuk-pilek biasa kok”. Walau terlihat sepele, rupanya batuk-pilek bisa sebagai ‘alarm’ bila si kecil terserang infeksi saluran pernapasan. Begitu pula dengan pneumonia yang tergolong dalam ISPA Bawah. Dr. I. Boediman, Sp.A (K) mendefinisikan pneumonia sebagai radang akut pada jaringan paru (alveoli) akibat infeksi kuman yang menyebabkan gangguan pernapasan. Penyebab utama pneumonia terdiri dari Streptococcus Pneumoniae (50 persen) dan Haemophillus influenza type B (Hib), dan sisanya, adalah virus dan penyebab lainnya. Dan bila pneumonia tidak ditangani segera akan menyebabkan kematian. Napas Cepat dan Sulit Bernapas “Biasanya, gejala awalnya adalah selesma (common cold), seperti demam, batuk dan pilek. Dapat pula disertai nyeri kepala dan hilang nafsu makan,” ujar Dr. Boediman, Sp.A (K), Staf Divisi Respirologi RSPUN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Lalu, sambungnya, pada tahap lanjutannya, akan timbul gejala lainnya, yakni: Napas Cepat Umumnya bergantung pada usia a...

Pneumonia, Pembunuh Nomor Satu Balita

BAGI orangtua yang memiliki anak-anak, sebaiknya waspadai penyakit yang satu ini. Penyakit yang menyerang pernapasan ini merupakan masalah yang cukup pelik di Indonesia mengingat angka kesakitan dan kematian yang ditimbulkan. Menurut laporan UNICEF WHO tahun 2006, Indonesia adalah negara dengan kejadian pneumonia ke-6 terbesar di dunia. Di samping itu, Riset Kesehatan Dasar 2007 juga mencatat pneumonia sebagai salah satu penyebab kematian terbanyak. Di dunia sendiri, penyakit yang sering diabaikan ini menjadi pembunuh nomor satu balita di mana lebih dari 2 juta balita meninggal karenanya atau penyebab 1 dari 5 kematian balita di seluruh dunia setiap tahunnya. Tak heran, menurunkan angka kematian balita sebagai salah satu akibat dari pneumonia menjadi target pencapaian Millenium Development Goals 1990–2015. Pneumonia merupakan penyakit yang sering terabaikan. Selain menyebabkan kematian pada anak, penyakit ini menciptakan beban secara ekonomi dan sosial yang berujung pada kemiskinan. ”...