Skip to main content

Stroke Bisa Menyebabkan Cacat

MERAWAT stroke terlihat sederhana, namun terkadang sulit dilakukan. Itu sebabnya, keahlian dan kepedulian sangat dibutuhkan dalam merawat pasien pascastroke di rumah.

Stroke masih merupakan problem utama dan angka penderitanya semakin meningkat. Di Amerika Serikat (AS), terdapat 700.000 pasien baru setiap tahunnya. Sementara, prevalensi stroke di Indonesia menurut data Kementerian Kesehatan meningkat tajam.

Stroke awalnya berada di urutan ketiga, kini menjadi urutan pertama penyebab kematian di Indonesia dan telah melewati penyakit yang selama ini telah mendominasi sebagai penyebab kematian terbanyak di Indonesia yaitu kanker dan jantung.

Ahli saraf dari Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof dr Teguh Asaad Suhatno Ranakusuma SpS (K) mengatakan, stroke merupakan penyakit yang diidentikkan dengan datang atau menyerang secara tiba-tiba.

Stroke merupakan suatu istilah umum bagi gangguan fungsi otak yang terjadi akibat adanya kegagalan sirkulasi darah otak karena adanya gangguan pembuluh darah ke atau di otak.

“Selain menyebabkan kematian, stroke juga menjadi penyebab kecacatan utama,” ujarnya dalam acara Pertemuan Ilmiah Stroke yang diadakan oleh Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), Bagian Neurologi FKUI/RSCM, dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jumat (3/12).

Meningkatnya prevalensi stroke di Indonesia tidak terlepas dari perubahan pola hidup akibat kemajuan ekonomi. Ahli saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM),Yogyakarta, Prof dr Harsono SpS (K), mengatakan bahwa stroke pada umumnya terjadi melalui “persiapan” yang cukup lama berupa faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan atau diubah maupun faktor risiko yang sebenarnya dapat dikendalikan.

Banyak orang yang memiliki pengetahuan terbatas tentang stroke sehingga tidak sedikit juga yang mengartikan bahwa stroke merupakan kejadian “lumpuh separuh tubuh” yang mendadak. Hal itulah yang merugikan pasien karena akan terjadi keterlambatan dalam penegakan diagnosis dan evaluasi dini. Dari keterlambatan itu pula, maka akibat yang ditimbulkan berbeda-beda.

“Sepulangnya dari rumah sakit,pasien stroke banyak yang harus menjalani program rehabilitasi di rumah,” ujar Harsono.

Rehabilitasi dimulai sejak terjadinya (awitan) stroke, atau sesegera mungkin sepanjang keadaan memungkinkan, dan diteruskan untuk jangka panjang, terutama di rumah pasien. Perawatan di rumah dilakukan ketika ancaman terhadap kehidupan sudah negatif atau tidak adanya komplikasi yang berarti.

Sering kali ketika pulang, pasien pascastroke masih mengalami gejala sisa yang dialami akibat stroke, seperti keadaan kehilangan motorik (hemiplegi) atau ada juga pasien yang pulang dengan keadaan bedrest total, kehilangan komunikasi atau kesulitan berbicara (disatria), dan lain-lainnya.

“Penanganan fisioterapi pascastroke adalah kebutuhan yang mutlak bagi pasien untuk dapat meningkatkan kemampuan gerak dan fungsinya,” ujarnya.

Untuk melakukan rehabilitasi di rumah, sebaiknya keluarga perlu diberikan pelatihan tentang perawatan pasien secara praktis di rumah. Perawatan ini dapat bersifat sederhana karena masalah yang ada memang sedikit.

Namun, dapat juga bersifat rumit karena masalah yang ada pada pasien bisa beragam atau kompleks. Kesiapan mental seluruh anggota keluarga pasien stroke perlu diperhatikan oleh staf medik dan paramedik. Artinya, ketika pasien masih dirawat di rumah sakit, maka pihak dokter dan perawat perlu mengenalkan persiapan mental kepada keluarga pasien sejak dini.

“Pengenalan persiapan mental ini harus disajikan secara arif, tidak bersifat menakut-nakuti agar seluruh anggota pasien stroke memahami seluk-beluk perubahan pasien secara proporsional,” tuturnya.

Umumnya, hal-hal yang perlu diperhatikan oleh keluarga pasien, antara lain afasia (gangguan linguistik atau tata bahasa yang dijabarkan sebagai sebuah penurunan dan disfungsi dalam isi, bentuk, penggunaan bahasa,dan terkait dengan proses kognitif), inkontinensia, depresi, mudah marah, nyeri, spastisitas, sulit tidur, kesulitan menelan, dekubitus.

“Lakukan kegiatan agar pasien merasa ada variasi dalam hidup, seperti melakukan aktivitas sosial seperti pertemuan keluarga, olahraga ringan atau senam stroke. Dengan kegiatan seperti ini, maka pemulihan pasien pun bisa cepat terlaksana,” paparnya.

Harsono juga mengingatkan untuk memperhatikan kebutuhan seks penderita stroke. Kebutuhan ini tidak perlu selalu diartikan sebagai melakukan hubungan seksual antara suami dan istri, tetapi juga secara psikologis kebutuhan seks ini dapat berupa kasih sayang dari suami atau istri pasien atau merasa diperhatikan dan dihargai atau juga tidak dibiarkan dalam kesendirian.

Dalam kasus tertentu, pihak keluarga dapat mengalami kesulitan atau tekanan psikologis karena adanya perubahan perangai pasien yang sulit dipahami dan/atau dikendalikan. Itu sebabnya keluarga harus memiliki kesabaran dan pengertian saat merawat pasien stroke di rumah.

Walaupun terlihat sepele, fasilitas pasien stroke yang dirawat di rumah juga harus diperhatikan, seperti kamar atau tempat tidur dengan cahaya dan aliran udara yang baik, blender, dan alat makan dan minum, alat bantu untuk berjalan, dan jika keluarga yang cukup mampu,maka perawatan di rumah bisa dibantu oleh tenaga pramurukti.

“Keluarga yang tidak mengerti bagaimana cara merawat pasien stroke di rumah, bisa memperlambat pemulihan, bahkan bisa memperparah keadaan pasien stroke. Itu sebabnya edukasi, kasih sayang, dan kepedulian untuk merawat pasien harus ditumbuhkan bagi mereka yang merawat pasien stroke,” pesan Teguh.

Edukasi bagi keluarga pasien stroke mengenai tata cara penanganan pasien stroke di rumah (home programe) akan sangat bermanfaat dalam mengembalikan kemampuan gerak dan fungsi pada pasien pascastroke.



(SINDO//nsa)
http://lifestyle.okezone.com

Comments

Popular posts from this blog

Usai Melahirkan, Kok Rambutku Rontok?

BARU sebulan ini Anda melahirkan anak pertama. Sejak beberapa hari pascamelahirkan, Anda perhatikan kok rambut jadi sering rontok. Apa penyebabnya? Apakah kondisi ini normal dialami perempuan pascamelahirkan? Kapan kondisi rambut akan menjadi normal kembali dan bagaimana perawatannya? dr Fakriantini Jayaputri, SpOG dari Rumah Sakit Zahirah memaparkan, rambut rontok pascamelahirkan disebabkan karena peningkatan hormon estrogen selama hamil yang kemudian menurun begitu melahirkan sehingga memengaruhi juga volume rambut. ‘Tahap Istirahat’ Pascamelahirkan Setelah melahirkan, kadar estrogen akan menurun sehingga membuat banyak rambut memasuki tahap istirahat. Kadar estrogen yang turun ini akan membuat seseorang mengalami kerontokkan rambut yang lebih banyak daripada biasanya baik saat keramas atau sedang menyisir. Secara normal berkisar 85-95 persen rambut di kepala akan tumbuh dan sisanya, berkisar 5-15 persen berada dalam tahap istirahat. Setelah masa istirahat, rambut ini akan rontok dan...

7 Mitos Seputar Menstruasi

MITOS seringkali dipercaya, berkembang dalam masyarakat dengan penyampaian informasi yang kurang tepat, kurang lengkap, bahkan terlalu berlebihan. Hal ini menimbulkan sikap antipati, defensif bahkan diskriminasi pada situasi tertentu. Sesudah mitos mengenai seksualitas, ternyata mitos mengenai menstruasi juga beredar dalam masyarakat dan turun temurun diberitahukan. Beberapa di antaranya: 1. Menstruasi membuat tubuh menjadi lemah. Hasil penelitian menyebutkan bahwa darah menstruasi yang keluar banyaknya kira-kira hanya 150 ml atau sekitar empat sampai enam sendok saja. Jadi tidak benar kalau tubuh akan menjadi lemas hanya karena Anda sedang menstruasi. 2. Sedang menstruasi berarti sedang sakit. Justru sebaliknya, menstruasi adalah proses alami yang dialami oleh setiap perempuan produktif. Menstruasi berarti perempuan tersebut sehat dan sistem reproduksinya bekerja dengan normal sebagaimana mestinya. 3. Ingin menstruasi lancar, sering-seringlah minum soft drink. Banyak yang percaya sela...

7 Gejala Masalah Payudara Tak Boleh Diabaikan

SEJAK lahir, payudara menempel di tubuh Anda. Namun, berapa banyak yang benar-benar Anda tahu tentangnya? Kebanyakan wanita hanya berkunjung ke dokter jika merasakan sakit atau ketidaknyamanan. Padahal, penting bagi Anda untuk menyadari perubahan payudara agar jauh dari risiko kanker. "Payudara Anda secara mengalami perubahan selama hidup Anda, tergantung pada perubahan kadar hormon, perubahan pramenstruasi, kehamilan dan menyusui, dan akhirnya menopause," jelas Cynara Coomer MD, kepala operasi payudara di Staten Island University Hospital dan asisten klinis profesor bedah di Mount Sinai School of Medicine di New York, seperti dilansir Yahoo Health. "Mengetahui apa yang dirasakan payudara, bagaimana penampilan fisiknya, dan menyadari perubahannya pada setiap siklus usia dapat membantu Anda mengetahui keadaan normal dan penyakit yang mungkin terjadi," tambahnya. Nyeri payudara, normalkah? Adalah normal jika payudara terasa nyeri selama periode menstruasi, terutama be...