Skip to main content

Stres Tingkatkan Risiko Gejala PMS

Penelitian yang dipublikasikan Journal of Women’s Health membuktikan sindrom pramenstruasi atau premenstrual syndrome (PMS) dirasakan lebih serius pada wanita yang mengidap stres sebelum tiba waktunya siklus menstruasi.

Perasaan yang tengah dilanda stres pada minggu-minggu menjelang kemunculan siklus menstruasi (mens) ternyata dapat meninggikan risiko gejala PMS yang lebih serius.

Wanita yang dilaporkan sedang mengalami tekanan stres yang tinggi sekitar dua minggu sebelum mereka mendapatkan menstruasi, memiliki risiko dua hingga tiga kali untuk mengalami depresi, perasaan sedih, menangis, termasuk gejala PMS lainnya, seperti nyeri tubuh, kembung, keluhan sakit punggung, kram, dan sakit kepala.



Risiko tentunya lebih tinggi ketimbang wanita yang tidak merasakan stres menjelang waktu menstruasi mereka. Penelitian ini berdasarkan studi yang diterbitkan oleh Journal of Women’s Health.

“Stres yang muncul menjelang siklus mens adalah faktor risiko PMS. Wanita dapat mengatasinya atau mencegah gejala PMS dengan berlatih yoga atau meditasi,” kata seorang peneliti Audra L Gollenberg PhD. Doktor dari Institut Nasional Kesehatan Anak di Bethesda Md Ini juga menyebut, gejala PMS mungkin tidak akan hilang seluruhnya.

“Tetapi teknik meredam stres dapat membuat gejala PMS yang dirasakan dapat dikurangi,” kata Audra menjelaskan pada webmd.com.

"PMS adalah kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi wanita. Sekitar 80 persen hingga 95 persen wanita pada usia subur mengalami gejala-gejala pramenstruasi yang dapat mengganggu beberapa aspek dalam kehidupannya," tuturnya.

Gejala tersebut dapat diperkirakan dan biasanya terjadi secara reguler pada dua minggu periode sebelum menstruasi. Hal ini dapat hilang begitu dimulainya pendarahan,namun dapat pula berlanjut setelahnya. Pada sekitar 14 persen perempuan antara usia 20 hingga 35 tahun,sindrom pramenstruasi dapat sangat hebat pengaruhnya sehingga mengharuskan mereka beristirahat dari sekolah atau kantornya.

Audra menyatakan, lebih dari 50 persen wanita melaporkan menderita PMS pada derajat yang lebih serius. Hal ini menyebabkan aktivitas keseharian mereka menjadi terganggu. Misalnya saja absen bekerja atau sekolah. Audra yang kini menjabat sebagai asisten profesor divisi Kesehatan Masyarakat di Universitas Shenandoah, Winchester menjelaskan,andaikata wanita dapat mengatasi masalah PMS ini tanpa mengandalkan obat-obatan tentunya merupakan langkah yang baik.

Studi yang dilakukan oleh Audra melibatkan tak kurang dari 259 wanita dengan kisaran usia 18-44 tahun. Mereka diharuskan mengisi kuesioner yang berkaitan dengan tingkat stres yang dialami serta gejala fisik dan psikologis PMS yang juga dialami selama periode menstruasi mereka.

Para wanita ini juga dianalisa masa suburnya menggunakan monitor fertilitas. Mereka kemudian melaporkan informasi ini kepada tim peneliti selama dua periode menstruasinya.

Di antara wanita yang diteliti tingkat stresnya dan gejala PMS yang dialami selama dua kali periode menstruasi,mereka yang mengeluh stres pada periode menstruasi pertama biasanya mengalami gejala PMS yang lebih berat atau serius. Adapun wanita yang mengeluhkan stres pada periode menstruasi pertama dan kedua, malah akan mengalami gejala PMS 25 kali lebih berat.

“Melakukan kegiatan untuk meredakan stres kemudian mengujinya apakah dapat mengurangi gejala PMS, merupakan langkah selanjutnya yang menarik untuk diteliti,” ujar Audra.

Kebanyakan perawatan untuk mengatasi gejala PMS ini hanya menyasar untuk pemulihan pada masa itu atau pada bulan itu. “Namun, hal ini akhirnya membuka mata saya dan semoga orang banyak, bahwa kita mempunyai peluang lebih besar untuk mengontrol gejala PMS dan membuat perubahan besar bagi wanita,” ujar Asisten profesor Obgyn Shari Brasner dari sekolah kedokteran Mount Sinai di New York.

Shari juga sependapat dengan Audra bahwa melawan gejala PMS dengan strategi non-farmakologi akan lebih efektif.

“Misalnya dengan cara relaksasi dan konseling yang dapat membantu wanita untuk meredam stresnya,” kata Shari. Namun dia tidak yakin mana yang lebih dulu atau mana yang merupakan sebab dan mana yang akibat. Apakah stres yang memicu PMS atau kegelisahan menjelang PMS yang menyebabkan stres.

“Ini seperti pertanyaan mana lebih dulu telur atau ayam,” katanya.

PMS mempunyai tipe dan gejala yang bermacam-macam. Dr Guy E Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA, AS, membagi PMS menurut gejalanya, yakni PMS tipe A, H, C, dan D. Setiap tipe memiliki gejalanya sendiri. PMS tipe A (anxiety) ditandai dengan gejala seperti rasa cemas, sensitif, saraf tegang, dan perasaan labil.

PMS tipe H (hyperhydration) memiliki gejala edema (pembengkakan), perut kembung, nyeri pada buah dada, pembengkakan tangan dan kaki, peningkatan berat badan sebelum haid. PMS tipe C (craving) ditandai dengan rasa lapar ingin mengonsumsi makanan yang manis-manis (biasanya cokelat) dan karbohidrat sederhana (biasanya gula).

PMS tipe D (depression) ditandai dengan gejala rasa depresi, ingin menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam mengucapkan kata-kata (verbalisasi), bahkan kadang-kadang muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri.


(SINDO//nsa)
Sumber: www.lifestyle.okezone.com

Comments

Popular posts from this blog

Usai Melahirkan, Kok Rambutku Rontok?

BARU sebulan ini Anda melahirkan anak pertama. Sejak beberapa hari pascamelahirkan, Anda perhatikan kok rambut jadi sering rontok. Apa penyebabnya? Apakah kondisi ini normal dialami perempuan pascamelahirkan? Kapan kondisi rambut akan menjadi normal kembali dan bagaimana perawatannya? dr Fakriantini Jayaputri, SpOG dari Rumah Sakit Zahirah memaparkan, rambut rontok pascamelahirkan disebabkan karena peningkatan hormon estrogen selama hamil yang kemudian menurun begitu melahirkan sehingga memengaruhi juga volume rambut. ‘Tahap Istirahat’ Pascamelahirkan Setelah melahirkan, kadar estrogen akan menurun sehingga membuat banyak rambut memasuki tahap istirahat. Kadar estrogen yang turun ini akan membuat seseorang mengalami kerontokkan rambut yang lebih banyak daripada biasanya baik saat keramas atau sedang menyisir. Secara normal berkisar 85-95 persen rambut di kepala akan tumbuh dan sisanya, berkisar 5-15 persen berada dalam tahap istirahat. Setelah masa istirahat, rambut ini akan rontok dan...

Sindrom Alkohol Bisa Hambat Perkembangan Bayi

SINDROM alkohol pada janin atau fetal alkohol syndrome (FAS) adalah kondisi akibat paparan alkohol sebelum kelahiran. FAS adalah penyebab dari keterbelakangan mental pada anak. Di samping keterbelakangan mental, FAS juga menyebabkan kelainan bentuk kerangka dan sistem organ besar (terutama jantung dan otak), gangguan pertumbuhan, masalah sistem saraf pusat, miskin keterampilan motorik, kematian, masalah belajar, memori, interaksi sosial, gangguan bicara, dan pendengaran. Ada pula fitur wajah yang merupakan ciri khas dari bayi FAS, yaitu mata kecil, hidung pendek atau terbalik, pipi datar dan bibir tipis. Meski penampilan fisik ini memudar ketika anak tumbuh, tetap saja mengalami kesulitan seumur hidup. Istilah dari alkohol yang lain ada pula, seperti fetal alkohol effects (FAE), yang dibagi menjadi dua kategori, yakni alkohol related neurodevelopmental disorder (ARND) dan alkohol related birth defect (ARBD). ARND menggambarkan gangguan mental dan perilaku seperti ketidakmampuan belajar...

7 Gejala Masalah Payudara Tak Boleh Diabaikan

SEJAK lahir, payudara menempel di tubuh Anda. Namun, berapa banyak yang benar-benar Anda tahu tentangnya? Kebanyakan wanita hanya berkunjung ke dokter jika merasakan sakit atau ketidaknyamanan. Padahal, penting bagi Anda untuk menyadari perubahan payudara agar jauh dari risiko kanker. "Payudara Anda secara mengalami perubahan selama hidup Anda, tergantung pada perubahan kadar hormon, perubahan pramenstruasi, kehamilan dan menyusui, dan akhirnya menopause," jelas Cynara Coomer MD, kepala operasi payudara di Staten Island University Hospital dan asisten klinis profesor bedah di Mount Sinai School of Medicine di New York, seperti dilansir Yahoo Health. "Mengetahui apa yang dirasakan payudara, bagaimana penampilan fisiknya, dan menyadari perubahannya pada setiap siklus usia dapat membantu Anda mengetahui keadaan normal dan penyakit yang mungkin terjadi," tambahnya. Nyeri payudara, normalkah? Adalah normal jika payudara terasa nyeri selama periode menstruasi, terutama be...