Skip to main content

Waspadai Skizofrenia!

PSIKOSIS merupakan gangguan tilikan pribadi yang membuat seseorang tidak mampu menilai atau menerima realitas kehidupan. Semuanya berdasarkan fantasinya. Sehingga kemudian muncul realitas baru versi penderita psikosis. Gangguan psikosis sangat beragam. Yang akan dibahas kali ini adalah skizofrenia.

Menurut Meriyati Budiman Mpsi, psikolog klinis dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, skizofrenia atau gangguan psikosis merupakan penyakit gangguan fungsi otak yang disebabkan oleh ketidakseimbangan nuerotransmitter atau fungsi saraf dalam otak.

“Psikosis adalah terminologi umum yang digunakan untuk menggambarkan kumpulan gejala (psikotik). Sedangkan skizofrenia adalah salah satu jenis gangguan yang memperlihatkan gejala psikosis. Skizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa yang paling berat,” jelasnya.

Ketidakseimbangan Zat Kimia

Skizofrenia tergolong gangguan otak yang bersifat kronis dan dapat menyebabkan gangguan fungsi otak. Kalau otak sudah terganggu, orang tidak bisa lagi mengendalikan diri.

“Padahal selain sebagai pusat berpikir, otak juga berperan vital dalam mengendalikan perilaku dan emosi yang merupakan bagian integral dari fungsi mental seseorang. Itulah sebabnya ODS (Orang Dengan Skizofrenia) sering dianggap sedang terganggu mentalnya,” katanya.

Penyebab gangguan ini adalah ketidakseimbangan zat kimia (neurotransmitter) dalam otak. Ketidakseimbangan ini yang kemudian membuat saraf otak “salah” menyampaikan pesan.

“Apapun yang kita pikirkan diproses di otak. Otak terbentuk dari neuron-neuron atau sel-sel saraf. Kalau jalannya saraf tidak seimmbang, akan terjadi kekacauan,” imbuhnya.

Neurotransmitter atau zat kimia pada otak menjadi perantara bagi sel-sel saraf untuk menyempaikan pesan ke seluruh tubuh. Pada keadaan normal, neurotransmitter akan menyampaikan pesan yang sama dari satu saraf ke saraf lain.

“Namun pada penderita skizofrenia salah menangkap atau salah mengerti. Tak jarang apa yang dimengerti bertolak belakang dengan realitas atau kenyataan. Akibatnya, para ODS memiliki keyakinan yang tidak realistis, sering berhalusinasi, dan memiliki rasa cemas yang berlebihan serta sering bingung dan sulit berkonsentrasi. Mereka juga memiliki keyakinan yang sangat kuat atas sesuatu seperti selalu merasa ada orang yang berniat jahat pada mereka,” sambung psikolog yang biasa disapa Meri ini.

Penyebab dan Gejala

Penyebab penyakit ini masih diteliti hingga sekarang karena masih belum diketahui dengan pasti apa yang menyebabkan ketidakseimbangan zat kimia dalam otak itu. “Penyebab terjadinya ketidakseimbangan tersebut belum diketahui secara pasti. Pemicu terjadinya skizofrenia juga bisa bervariasi, bahkan ada yang tidak diketahui pemicunya,” kata Meri.

Sejauh ini diterima bahwa beberapa kombinasi faktor dapat mencetuskan skizofrenia. Faktor genetik atau keturunan, misalnya. Bila salah satu anggota keluarga pernah mengalami skizofrenia, bukan tidak mungkin penyakit ini juga akan muncul pada anggota keluarga yang lain. Faktor lainnya seperti kondisi pra-kelahiran, lingkungan sosial, penggunaan obat-obatan terlarang, dan konstruksi sosial yang berkembang di masyarakat.

Munculnya skizofrenia bisa diketahui dari gejala-gejalanya, sekalipun tak jarang muncul tiba-tiba alias mendadak. Adapun gejala-gejala skozofrenia dibagi ke dalam beberapa golongan. Gejala positif, gejala negatif, gejala afektif. Gejala kognitif, gan gejala agresif.
Gejala positif dan negatif merupakan gejala yang menunjukkan perilaku atau pola berpikir. Pada gejala positif, penderita akan memiliki pikiran yang seharusnya tidak ada menjadi ada ketika berinteraksi. Gejala ini meliputi halusinasi, umumnya berupa halusinasi penglihatan dan pendengaran. Misalnya, penderita skizofrenia merasa mendengar bisikan-bisikan tertentu di telinganya.

Sedangkan gejala negatif adalah kebalikan dari gejala positif. Penderita skizofrenia memiliki pola pikir yang seharusnya ada menjadi hilang.

“Gejalanya berupa emosi yang datar, ketidakmampuan untuk berinisiatif dan mengikuti jalannya kegiatan, dan tidak punya ketertarikan dalam hidup,” terang Meri.

Sementara gejala afektif adalah gejala yang seringkali menyertai penyakit skizofrenia. Penderita kerap merasa tertekan, cemas berlebihan, kurang tidur, perasaan tidak berharga, dan selalu diliputi perasaan bersalah. Bahkan penderita juga sering berpikir mengenai kematian dan bunuh diri.

Gejala kognitif menunjukkan pola pikir yang tidak beraturan dan perilaku yang tidak masuk akal. Sedangkan pada gejala agresif penderita sering menunjukkan sikap bermusuhan serta gangguan dalam pengendalian impuls.

Dampak Skizofrenia

Apakah skizofrenia berbahaya? Ya. Gangguan ini berbahaya bagi penderita, keluarganya, dan lingkungan sosialnya.

“Bahaya kalau kita membiarkan psikosis ini berlarut-larut. Bahaya buat keluarga dan buat dia sendiri. Yang pasti, penderita psikosis tidak bisa aktif di dalam masyarakat. Harus cepat ditangani karena akan mengganggu lingkungan sosial. Psikosis dapat melakukan hal-hal yang tidak bisa terkontrol dalam bentuk perilaku agresif,” terang Meri.

Skizofrenia mengakibatkan terganggunya kemampuan seseorang untuk berpikir jernih, berinteraksi dengan orang lain dan berperan secara produktif di masyarakat. Itu pula mengapa ODS dianggap “terganggu” jiwanya.

“Banyak ODS yang akhirnya berhenti bekerja atau pun putus sekolah. Dan keluarga harus mengorbankan banyak waktu, tenaga, serta biaya untuk mengobati ODS,” jelas Meri.

Meri menyarankan penderita skizofrenia harus ditangani dengan cepat dan tepat untuk mengurangi kekambuhan, agar penderita skizofrenia tetap menjadi individu yang produktif.

“Skizofrenia sama saja dengan sakit pada umumnya. Kunci utama keberhasilan terapi adalah kepatuhan dan kedisiplinan ODS dalam menjalani pengobatan,” katanya.

Waspadai Skizofrenia!
Tindakan pengobatan bagi penderita skizofrenia bisa melalui beberapa terapi, yaitu farmakoterapi, psikoterapi, dukungan dan psikoedukasi pada keluarga. Farmakoterapi jelas melibatkan obat. Tujuannya adalah menyeimbangkan kembali zat kimia yang terganggu.

“ODS yang tidak patuh menjalankan pengobatan akan memiliki risiko kambuh lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang patuh pada pengobatan,” lanjutnya.

Sedangkan psikoterapi dan dukungan keluarga akan sangat membantu penderita untuk mengembalikan fungsi agar lebih mandiri dan produktif. Dengan demikian, kualitas hidup bisa membaik.

“Kasih sayang dari keluarga akan membantu mempercepat pemulihan pasien serta mengurangi kekambuhan. Dengan kata lain, dukungan keluarga dalam mendampingi dan membantu pasien untuk mengoptimalkan keberhasilan terapi sangat berguna,” jelas Meri.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah kekambuhan adalah dengan melakukan intervensi psikososial, antara lain, dengan edukasi pada penderita dan keluarganya mengenai sifat-sifat skizofrenia, mengurangi rasa bersalah pada penderita atas munculnya penyakit ini, dan mengurangi keterlibatan orang tua dalam kehidupan emosional ODS.

“Intervensi psikososial diyakini berdampak baik pada angka kekambuhan dan kualitas hidup ODS,” jelas Meri.



(Genie/Genie/tty)
http://lifestyle.okezone.com

Comments

Popular posts from this blog

7 Mitos Seputar Menstruasi

MITOS seringkali dipercaya, berkembang dalam masyarakat dengan penyampaian informasi yang kurang tepat, kurang lengkap, bahkan terlalu berlebihan. Hal ini menimbulkan sikap antipati, defensif bahkan diskriminasi pada situasi tertentu. Sesudah mitos mengenai seksualitas, ternyata mitos mengenai menstruasi juga beredar dalam masyarakat dan turun temurun diberitahukan. Beberapa di antaranya: 1. Menstruasi membuat tubuh menjadi lemah. Hasil penelitian menyebutkan bahwa darah menstruasi yang keluar banyaknya kira-kira hanya 150 ml atau sekitar empat sampai enam sendok saja. Jadi tidak benar kalau tubuh akan menjadi lemas hanya karena Anda sedang menstruasi. 2. Sedang menstruasi berarti sedang sakit. Justru sebaliknya, menstruasi adalah proses alami yang dialami oleh setiap perempuan produktif. Menstruasi berarti perempuan tersebut sehat dan sistem reproduksinya bekerja dengan normal sebagaimana mestinya. 3. Ingin menstruasi lancar, sering-seringlah minum soft drink. Banyak yang percaya sela...

Usai Melahirkan, Kok Rambutku Rontok?

BARU sebulan ini Anda melahirkan anak pertama. Sejak beberapa hari pascamelahirkan, Anda perhatikan kok rambut jadi sering rontok. Apa penyebabnya? Apakah kondisi ini normal dialami perempuan pascamelahirkan? Kapan kondisi rambut akan menjadi normal kembali dan bagaimana perawatannya? dr Fakriantini Jayaputri, SpOG dari Rumah Sakit Zahirah memaparkan, rambut rontok pascamelahirkan disebabkan karena peningkatan hormon estrogen selama hamil yang kemudian menurun begitu melahirkan sehingga memengaruhi juga volume rambut. ‘Tahap Istirahat’ Pascamelahirkan Setelah melahirkan, kadar estrogen akan menurun sehingga membuat banyak rambut memasuki tahap istirahat. Kadar estrogen yang turun ini akan membuat seseorang mengalami kerontokkan rambut yang lebih banyak daripada biasanya baik saat keramas atau sedang menyisir. Secara normal berkisar 85-95 persen rambut di kepala akan tumbuh dan sisanya, berkisar 5-15 persen berada dalam tahap istirahat. Setelah masa istirahat, rambut ini akan rontok dan...

Jenis-Jenis Kolesterol

Kolesterol merupakan suatu kata yang sangat umum di masyarakat. Namun sedikit yang tahu bahwa kolesterol dapat menganggu siapa saja, bahkan merupakan silent killer. Gangguan kolesterol yang tinggi atau hiperkolesterolemia, apabila tidak ditangani dengan bijak dan tepat dapat mengarah pada berbagai macam penyakit serius, seperti jantung koroner, diabetes militus, stroke, dan disfungsi ereksi. Jenis-jenis penyakit serius tersebut saat ini sudah semakin banyak diderita masyarakat yang berusia produktif, dan jumlahnya pun semakin meningkat setiap tahun. Kolesterol sendiri adalah senyawa lemak kompleks, yang 80 persen dihasilkan dari dalam tubuh (organ hati) dan 20 persen sisanya dari luar tubuh (zat makanan) untuk bermacam-macam fungsi di dalam tubuh, antara lain membentuk dinding sel. Kolesterol yang berada dalam zat makanan yang kita makan dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Tetapi sejauh pemasukan ini seimbang dengan kebutuhan, tubuh kita akan tetap sehat. Kolesterol tidak ...