Skip to main content

Virus Flu Sebabkan Obesitas pada Anak

TIDAK hanya karena pola makan yang berlebihan serta kurangnya aktivitas fisik, obesitas pada anak-anak ternyata bisa juga disebabkan oleh infeksi virus flu. Sebuah penelitian terbaru telah membuktikan hal tersebut.

Perubahan cuaca ekstrem belakangan ini membuat sistem kekebalan tubuh anak-anak menurun. Mereka menjadi rentan terhadap penyakit yang menyerang pernapasan, seperti demam, batuk, dan flu. Dari ketiga jenis penyakit tersebut yang patut diwaspadai adalah serangan flu. Anak-anak yang sering terkena sejenis virus penyebab flu (common cold) terbukti akan berisiko tinggi untuk mengalami obesitas atau kegemukan.

Menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics, infeksi adenovirus-36 (AD36) – salah satu virus penyebab flu – kemungkinan memainkan peran besar dalam menyebabkan obesitas anak. Kesimpulan studi menunjukkan, anak-anak dengan obesitas lebih kecil kemungkinan untuk mendapatkan hasil positif untuk antibodi virus tersebut dibanding rekannya yang lebih kurus.

Sebelumnya, beberapa penelitian telah menghubungkan infeksi virus dengan kegemukan dan AD36 dimungkinkan menjadi penyebab obesitas karena studi pada hewan telah menunjukkan bahwa virus ini meningkatkan lemak dalam tubuh. Namun, sifat dasar dari kaitan soal ini belum dipahami. Virus ini mungkin bisa menyebabkan kenaikan berat badan atau mungkin orang-orang yang obesitas lebih rentan terhadap infeksi AD36.

Menurut informasi yang dikutip dalam studi, sekitar 17 persen dari anak-anak di Amerika Serikat saat ini mengalami obesitas. Akibatnya, anak-anak mendapatkan masalah kesehatan yang terkait dengan obesitas, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes yang sebelumnya hanya terjadi pada orang dewasa. Kenyataan ini membuat semua orang khawatir, termasuk First Lady Amerika Serikat, Michelle Obama.

Gedung Putih lalu membentuk The White House Task Force on Childhood Obesity untuk menekan angka obesitas di masa anakanak hingga 5 persen pada 2030. Faktor-faktor lain –termasuk diet yang tidak sehat dan kurang berolahraga– juga meningkatkan risiko obesitas, tetapi infeksi juga bisa menjadi bagian dari semua masalah ini.

Kembali ke dalam studi ini para peneliti memeriksa 124 anak-anak dengan usia rata-rata 13,6 tahun. Sekitar 54 persen dari mereka dinyatakan obesitas, sementara 46 persen sisanya tidak. Peneliti menguji darah mereka untuk mendapatkan antibodi terhadap virus AD36. Antibodi diproduksi oleh tubuh sebagai respons terhadap infeksi.

Hasil penelitian menunjukkan, secara keseluruhan, 15 persen dari partisipan diuji positif antibodi terhadap virus AD36, sebagian dari mereka yang mengalami obesitas. Secara spesifik, 22 persen anak obesitas memiliki antibodi terhadap virus ini, dibandingkan dengan 7 persen dari anak-anak yang tidak gemuk. Anak-anak yang dites positif antibodi AD36, beratnya 35 kilogram lebih banyak dibanding rata-rata dari anak-anak yang diuji negatif.

“Data ini mendukung adanya hubungan antara adanya antibodi AD36 yang spesifik dan obesitas pada anak-anak,” tulis kesimpulan peneliti dari University of California, San Diego, Amerika Serikat tersebut. “Jika suatu hubungan sebab-akibat ditegakkan, maka itu akan memiliki implikasi yang cukup untuk melakukan pencegahan dan perawatan kegemukan di masa kanak-kanak,” lanjut kesimpulan tersebut.

Seperti dikutip laman webmd.com, peneliti studi Jeffrey Schwimmer MD, seorang profesor pediatrik di University of California, San Diego, Amerika Serikat mengatakan, di Amerika Serikat, dari semua anak obesitas, setiap 1 persen sama dengan sekitar 100.000 anak.

“Kami menemukan bukti bahwa infeksi adenovirus-36 terjadi pada sekitar 1 dari setiap 7 anak dalam penelitian ini,” tuturnya. Dan kebanyakan, lanjut dia, anak dengan bukti terpapar infeksi adalah yang mengalami obesitas.

“Studi panjang soal ini akan diperlukan untuk menentukan seberapa besar peran (sesuatu) yang dapat dikaitkan ke penyebab (penyakit) tertentu. Tetapi ada kemungkinan bahwa adenovirus-36 bisa menjadi relevan untuk (menjadi penyebab penyakit) sejumlah besar anak-anak,” ujar Schwimmer.

Namun, dapatkah sebuah vaksin mencegah obesitas? Nikhil V Dhurandhar PhD, seorang profesor dan kepala laboratorium infeksi dan obesitas di Pennington Biomedical Research Center di Baton Rouge, LA, Amerika Serikat mengatakan, studi ini merupakan tonggak bagus untuk meneliti AD36 dan perannya dalam menyebabkan obesitas.

“Kami telah mempelajari soal ini kepada hewan dalam berbagai bentuk dan telah menemukan bukti bahwa ketika terinfeksi (virus), hewan akan menggemuk,” ungkap Dhurandhar yang merupakan seorang ilmuwan terkemuka dalam bidang “infectobesity” (obesitas karena infeksi menular) dan telah menerbitkan banyak penelitian tentang AD36.

“Hubungan (virus flu dan obesitas) ini juga telah terlihat pada orang dewasa dan sekarang untuk pertama kalinya, kita melihat bahwa mungkin akan terjadi juga pada anak-anak,” ujar dia. Jika penelitian lebih lanjut menguatkan hubungan antara virus dan obesitas, ada kemungkinan para ilmuwan untuk mengembangkan vaksin untuk mencegah obesitas dan itu akan menjadi sebuah penemuan besar.

“Itu sebabnya dasar dari penelitian ini benar-benar penting,” kata Dhurandhar.
Hasil penelitian ini selanjutnya menimbulkan berbagai pertanyaan- pertanyaan menarik. “Salah satunya, adakah hubungan antara anak yang dulunya terpapar virus dan sekarang kelebihan berat badan,” kata Scott Kahan MD, wakil direktur Weight Management Program di George Washington University, Washington DC, Amerika Serikat.

“Penelitian ini hanya sebuah potret dalam satu waktu. Jadi, kami tidak dapat menegaskan apakah karena virus ini menyebabkan orang menderita obesitas atau mempengaruhi mereka mendapatkan perilaku tertentu,” tandasnya. “Studi ini menimbulkan banyak pertanyaan yang sangat wajar, di mana memerlukan waktu dan usaha dalam mencoba menjawab hal tersebut,” lanjutnya lagi.

(Koran SI/Koran SI/tty)
http://lifestyle.okezone.com

Comments

Popular posts from this blog

Usai Melahirkan, Kok Rambutku Rontok?

BARU sebulan ini Anda melahirkan anak pertama. Sejak beberapa hari pascamelahirkan, Anda perhatikan kok rambut jadi sering rontok. Apa penyebabnya? Apakah kondisi ini normal dialami perempuan pascamelahirkan? Kapan kondisi rambut akan menjadi normal kembali dan bagaimana perawatannya? dr Fakriantini Jayaputri, SpOG dari Rumah Sakit Zahirah memaparkan, rambut rontok pascamelahirkan disebabkan karena peningkatan hormon estrogen selama hamil yang kemudian menurun begitu melahirkan sehingga memengaruhi juga volume rambut. ‘Tahap Istirahat’ Pascamelahirkan Setelah melahirkan, kadar estrogen akan menurun sehingga membuat banyak rambut memasuki tahap istirahat. Kadar estrogen yang turun ini akan membuat seseorang mengalami kerontokkan rambut yang lebih banyak daripada biasanya baik saat keramas atau sedang menyisir. Secara normal berkisar 85-95 persen rambut di kepala akan tumbuh dan sisanya, berkisar 5-15 persen berada dalam tahap istirahat. Setelah masa istirahat, rambut ini akan rontok dan...

Sindrom Alkohol Bisa Hambat Perkembangan Bayi

SINDROM alkohol pada janin atau fetal alkohol syndrome (FAS) adalah kondisi akibat paparan alkohol sebelum kelahiran. FAS adalah penyebab dari keterbelakangan mental pada anak. Di samping keterbelakangan mental, FAS juga menyebabkan kelainan bentuk kerangka dan sistem organ besar (terutama jantung dan otak), gangguan pertumbuhan, masalah sistem saraf pusat, miskin keterampilan motorik, kematian, masalah belajar, memori, interaksi sosial, gangguan bicara, dan pendengaran. Ada pula fitur wajah yang merupakan ciri khas dari bayi FAS, yaitu mata kecil, hidung pendek atau terbalik, pipi datar dan bibir tipis. Meski penampilan fisik ini memudar ketika anak tumbuh, tetap saja mengalami kesulitan seumur hidup. Istilah dari alkohol yang lain ada pula, seperti fetal alkohol effects (FAE), yang dibagi menjadi dua kategori, yakni alkohol related neurodevelopmental disorder (ARND) dan alkohol related birth defect (ARBD). ARND menggambarkan gangguan mental dan perilaku seperti ketidakmampuan belajar...

7 Gejala Masalah Payudara Tak Boleh Diabaikan

SEJAK lahir, payudara menempel di tubuh Anda. Namun, berapa banyak yang benar-benar Anda tahu tentangnya? Kebanyakan wanita hanya berkunjung ke dokter jika merasakan sakit atau ketidaknyamanan. Padahal, penting bagi Anda untuk menyadari perubahan payudara agar jauh dari risiko kanker. "Payudara Anda secara mengalami perubahan selama hidup Anda, tergantung pada perubahan kadar hormon, perubahan pramenstruasi, kehamilan dan menyusui, dan akhirnya menopause," jelas Cynara Coomer MD, kepala operasi payudara di Staten Island University Hospital dan asisten klinis profesor bedah di Mount Sinai School of Medicine di New York, seperti dilansir Yahoo Health. "Mengetahui apa yang dirasakan payudara, bagaimana penampilan fisiknya, dan menyadari perubahannya pada setiap siklus usia dapat membantu Anda mengetahui keadaan normal dan penyakit yang mungkin terjadi," tambahnya. Nyeri payudara, normalkah? Adalah normal jika payudara terasa nyeri selama periode menstruasi, terutama be...